Semangat Awal

yang Tak Kunjung Berahir

Oleh

Khusni Nadzif

Pada sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Wilayah Yogyakarta ada seorang mahasiswa baru yang berasal dari desa terpencil di sebuah Kabupaten Pemalang. Sebut namanya Eko, dia berasal dari keluarga yang sederhana dan telah ditinggal Ibunya sejak umur 8 tahun. Eko adalah anak pertama dari dua bersaudara, adik Eko bernama Eno yang sekarang masih duduk di kelas 2 SMAN di daerahnya. Dua bersaudara ini mempunyai prestasi yang sangat menonjol sehingga membuat ayahnya semakin giat dalam mencari nafkah untuk kedua anaknya.

Ini sangat membantu Eko dalam menggapai cita-citanya sejak kecil yaitu ingin menjadi dokter, dia ingin sekali mengobati penyakit ayahnya yang sudah bertahun-tahun namun tak kunjung sembuh. Eko di Jogja tinggal di kost yang kelihatannya tidak layak untuk mahasiswa ilmu kedokteran sepertinya namun apa daya ayah Eko tak mampu untuk memberinya lebih. Dan bagi Eko itu tak menjadi masalah besar, dia menjalaninya dengan senang hati.

Suatu ketika di fakultas ilmu kesehatan ada acara lomba synopsis karya ilmiah, karena Eko tergolong anak Perpus (menurut teman-temannya) dia pun mencoba untuk mengembang-kan hobinya itu. Dan hadiahnya pun lumayan yaitu seperti notebook, computer, dan alat-alat keperluan mahasiswa yang lainnya.

Eko merupakan mahasiswa yang aktif dan berpotensi, seperti biasanya setiap hari dia sabtu mengikuti kegiatan mahasiswa tentang pengembangan kesehatan di kampusnya. Persiapan semua untuk perlombaan pun sudah dipersiapkan matang-matang dan berharap untuk menjadi juaranya. Tak jarang anto meminta do’a restu ayahnya di rumah melalui telepon.

Tiba saatnya hari perlombaan tersebut dimulai hari Minggu pukul 09.00 WIB, Eko pun mulai berangkat pukul 08.00 WIB menggunakan sepeda ontelnya dari kost tempat tinggalnya yang berjarak ±3 Km untuk ke kampus. Namun tiba-tiba keadaan berubah menjadi tak memungkinkan yaitu ban belakang sepeda ontelnya bocor, padahal jarak ke kampus masih 1,5 Km lagi, tak ada seorang pun selain dia  terpaksa Eko harus menuntun sepedanya sampai ke kampus karena di jalan tersebut masih sepi dan kebanyakan ladang yang ditumbuhi padi dan jagung. Dengan amat sangat gelisah atas keadaan tersebut Eko pun bergegas cepat karena takut telat sampai kampus. Sesampai-nya di kampus dia bergegas mencari ruang tempat lomba tersebut diadakan, untung saja Eko belum terlalu lama telatnya, kira-kira baru mulai 5 menit yang lalu. Eko pun duduk ditempat yang sudah disediakan panitia. Bel berbunyi tanda perlombaan synopsis karya ilmiah akan selesai dan Eko pun sudah selesai mengerjakannya, tinggal mengecek sinopsisnya. Tepat pukul 11.00 WIB bel tanda selesai berbunyi dan semua peserta meninggalkan ruangan teersebut dan menuju ke kantin, lain halnya dengan Eko, dia langsung kembali ke tempat parkir untuk mengambil sepeda ontelnya dan mencari tempat tambal ban. Setelah beberapa hari pengumuman lomba pun ditempel di madding-mading kampus dan pemenangnya disuruh menemui panitia untuk mengambil hadiahnya. Terdapat 200an peserta semuanya bagus dan menarik tapi nama teratas adalah Eko Saputro yang tak lain adalah Eko, tak disangka keadaan menjadi seperti yang Eko inginkan, dan Eko pun menerima hadiahnya berupa notebook yang lumayan bagus untuk digunakan sebagai alat kuliah Eko, dan sekarang Eko tidak susah-susah pergi ke rental pengetikan setiap ada tugas dari dosennya.

Suatu hari Eko terserang penyakit demam tinggi karena seringkali kehujanan tiap pulang kuliah, maklum dengan jarak 3 Km dia selalu mengayuh sepedanya setiap hari, dan Eko pun kelihatannya sangat pucat dan tak berdaya lagi, tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk berangkat kuliah meskipun keadaan-nya tak memungkinkan. Sesampainya di Jalan dekat kampus Eko sudah tak mungkin untuk melanjutkan perjalanannya untuk pergi kuliah, untungnya dosen akademiknya melihat Eko di jalan dan langsung dinaikkannya Eko ke dalam mobilnya, sedangkan sepeda ontelnya dititipkan  dengan keamanan kampus, Eko dibawa ke Poliklinik fakultas kesehatan dan segera ditangani oleh para perawat. Saat itu keadaan Eko belum sadarkan diri dan dia pun terkejut saat sadarkan diri ternyata ada disebuah ruangan yang sepertinya dia pernah masuk saat pelatihan kesehatan. Kemudian setelah siuman perawat pun menjumpai Eko dan menjelaskannya mengapa dia bisa sampai ke tempat ini.

Eko merasa bersalah terhadap dirinya karena memaksa-kan diri untuk pergi kuliah padahal keadaannya sedang sakit. Eko dirawat selama 2 hari di poliklinik dan dibiayai oleh dosen akademiknya. Dosen tersebut sudah mengenal Eko sejak awal, dan dia sudah mengerti karakter ekonomi keluarganya.

Setelah keadaan membaik Eko menghubungi ayahnya di rumah bahwa dia telah dirawat inap di poliklinik fakultas. Dan ayahnya pun gelisah takut penyakit Eko sewaktu kecil itu kambuh lagi. Sore harinya ayah Eko langsung bergegas menuju ke Jogja dengan perasaan was-was mengendarai sepeda motornya untuk menjenguk anaknya di Jogja dan Eno ditinggal sendiri di rumah karena dia besoknya juga masih sekolah. Keluar dari Kab. Pemalang pukul 15.00 WIB sampai di Magelang tepat adzan maghrib dan Anto ayah Eko beristirahat sejenak dan dilanjutkan sholat maghrib dengan di jamak dengan waktu Isya (Takutnya tidak kesampaian untuk Sholat Isya karena kelelahan). Setelah Istirahat sholat dan makan perjalanan dilanjutkan menuju ke Jogja kira-kira 1 jam perjalanan. Namun hujan lebat di-sepanjang  jalan magelang dan Anto pun tetap mengendarai sepeda motornya karena baginya sudah cukup dekat jarak yang akan dilaluinya. Tapi tiba-tiba sepeda motornya mogok saat di tikungan tajam dan dari arah berlawanan bus jurusan Jogja – Semarang tidak bisa menghindari lajunya Anto dan dengan kerasnya Anto tertabrak bus tersebut sampai terpental sejauh 10 m dan bus tersebut langsung kabur tidak bertanggung jawab. Dalam hati Eko sangat was-was juga terhadap ayahnya karena ayahnya juga memiliki penyakit paru-paru, bagaimana kalau ayahnya datang sendirian pasti akan sangat kelelahan di-perjalanan. Untungnya banyak warga yang menyaksikannya dan langsung dibawakannya Anto ke rumah sakit terdekat, tapi di perjalanan ke rumah sakit Anto menghembuskan nafas terahirnya.

Pesan-pesan :

1.  Semangat awal seorang mahasiswa baru sangat besar dan diharapkan tidak akan hilang saat sebelum lulus dari universitas lebih baik lagi selamanya tidak pernah putus semangat.

2.  Selalu ingat Kepada yang Maha Kuasa saat diperjalanan, seperti Pak Anto dia sudah meluangkan waktunya untuk sholat bahkan dengan dijamak dengan waktu isya, jadi dia meninggal dalam keadaan sudah melakukan perintah ibadah sholat isya.