Merapi Meletus, Mentawai Tsunami
Puluhan Ribu Warga Jateng Mengungsi, di Sumbar 122 Meninggal dan 502 Hilang
SELAMATKAN DIRI. Warga Desa Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, berlarian menghindari abu dan awan panas yang mulai keluar dari perut Gunung Merapi, Selasa, 26 Oktober. Puluhan ribu warga sudah diungsingkan karena bencana ini. (FOTO BEAWIHARTA/REUTERS)
KLATEN — Dari laut ke gunung. Setelah gempa mengguncang wilayah Sumatera Barat (Sumbar) yang disusul tsunami hebat di daerah Mentawai, kemarin petang giliran Gunung Merapi yang meletus.
Akibat dari dua bencana berentetan itu, ribuan warga tiga kabupaten di Jawa Tengah; Klaten, Boyolali dan Magelang mengungsi. Seorang di antaranya, Ilham Azza, enam bulan, meninggal.

Sampai berita ini diturunkan pukul 00.30 Wita, korban tewas baru Azza seorang. Itu pun karena telat dievakuasi sehingga sesak napas. Berita terkait di halaman 10.
Sementara di Mentawai, dilaporkan sedikitnya 122 warga meninggal serta 502 dinyatakan hilang. Mereka diperkirakan tersapu tsunami yang melanda daerah itu dua jam setelah gempa mengguncang. 

Tanda-tanda meletusnya Merapi mulai terdeteksi sejak pukul 17.05 WIB. Selanjutnya, sekira sepuluh menit berselang, hujan abu dan luncuran awan panas dari perut Gunung Merapi, mulai menebar maut. Awan panas merupakan salah satu ancaman terbesar dari Merapi selain lontaran material vulkanik.

Awan panas pertama kali meluncur ke arah selatan. Munculnya awan panas membuat warga yang tinggal di kawasan rawan bencana langsung kalang kabut.

Informasi yang berhasil dihimpun Radar Solo (Group FAJAR), sebelum awan panas meluncur dari puncak, di sekitar lereng Merapi hujan deras dan langit tertutup mendung. Makanya saat awan tersebut keluar dan meluncur ke arah selatan, tidak banyak yang tahu.

“Karena mendung, tadi sulit melihat secara pasti besaran awan yang keluar dari puncak Gunung Merapi. Yang jelas mengarah ke selatan. Kemungkinan ke Kali Gendol, Yogyakarta dan Kali Woro, Klaten,” ujar penasihat Paguyuban Sabuk Gunung (Pasag) Merapi, Sukiman.

Selain awan panas, dari perut Merapi juga terus terdengar suara bergemuruh. Suara tersebut dipicu adanya guguran materi vulkanik akibat tekanan dari magma bumi sehingga terjadi longsor besar.

“Suaranya terdengar jelas di sekitar Pos Pemantau di Dusun Ndeles, Desa Sidorejo. Kami sudah mulai mengevakuasi warga yang sebelumnya hanya tenang dan berdiam diri di rumah. Mereka sudah mulai bergerak ke pos pengungsian,” tambah Sukiman.

Dari Boyolali dilaporkan, tanda-tanda meletusnya Merapi terlihat sangat jelas. Maklum, di daerah ini cuaca cukup cerah sehingga asap tebal kecokelatan sudah mulai tampak di puncak Merapi.

Di bagian puncak Merapi, sepanjang siang kemarin terus mengeluarkan asap pekat. “Pengamatan kami memang asap pekat sebagai tanda magma sudah naik,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo, di Boyolali kemarin.

Hasil pengamatan yang dihimpun BPPTK, magma semakin mendekat ke kubah. Material panas pun juga sudah keluar dan disertai asap kecokelatan. Ini terlihat di Pos 2 Pengamatan Merapi Desa Jrakah, Kecamatan Selo.

“Muncul asap tebal kecokelatan. Ketinggiannya sekitar empat ratus meter,” kata Tri Mujianto, petugas Pos 2 Pengamatan Merapi.

Warga Mengungsi

Meletusnya Gunung Merapi petang kemarin, membuat warga sekitar lereng bagian selatan, panik dan tunggang langgang. Mereka langsung bergerak menuju lokasi pengungsian menggunakan truk yang sudah disiapkan di setiap RT.

“Kita siapkan 20-an truk untuk mengangkut warga ke pos pengungsian. Keluarnya awan panas membuat warga di Dusun Ndeles sangat rentan terkena luka bakar,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Balerante. Warga yang awalnya menolak dievakuasi, petang kemarin langsung geger. Tentu saja kondisi ini membuat perangkat desa dan Satkorlak PB harus bekerja ekstra mengangkut warga yang ketakutan.

“Kami sudah mulai bergerak ke Desa Bawukan (pos pengungsian). Banyak warga yang khawatir dengan munculnya awan panas tersebut,” ujar Kepala Dusun I Desa Balerante, Zainu.
Bupati Klaten, Sunarna mengakui sedikitnya ada empat desa yang masuk wilayah rawan bencana di daerahnya. Keempat desa itu adalah Balerante, Sidorejo, Tegal Mulyo dan Kendalsari.

Dari keempat desa itu, tambah Sunarna, yang diungsikan mencapai 8.000 orang. Rinciannya, Sidorejo 3000 pengungsi, Tegal Mulyo 3.600 pengungsi, Balerante 1.230 pengungsi, dan sisanya dari Desa Kendalsari. “Sampai saat ini, proses evakuasi terus berjalan,” kata Sunarna.

Soal posko pengungsian, Sunarna mengungkapkan, kebanyakan warga masih ditempatkan di gedung sekolah. Pasalnya, hujan deras masih mengguyur tiga desa yang merupakan posko pengungsian tersebut.

Dari Magelang dilaporkan, pemerintah setempat melakukan evakuasi besar-besaran di tengah hujan abu yang menyelimuti wilayah itu. Sampai berita ini diturunkan, proses evakuasi masih berlangsung. Maklum, jumlah warga yang harus diungsikan sangat banyak.

Sebagai gambaran, dari Kecamatan Srumbung yang terdapat delapan desa paling rawan bahaya Merapi tercatat 13.110 jiwa yang harus dievakuasi. Mereka diungsikan ke Balai Desa Gulon, Beringin, Srumbung, Jerukagung, Salam, gedung perikanan dan lapangan Srumbung.

Kemudian di Kecamatan Dukun yang terdapat delapan desa, tercatat 19.885 jiwa diungsikan. Di Kecamatan Sawangan juga tercatat 1.211 jiwa diungsikan dari lima dusun di tiga desa.

Semua penduduk di semua desa tersebut dievakuasi dengan menggunakan mobil pick up, truk, kendaraan pribadi dan roda dua milik warga. Selain kendaraan milik masyarakat, evakuasi ini meliputi kendaraan milik pemerintah daerah, TNI, dan Polri.

“Kita sudah membuat skema arah evakuasi, dan skema ini sudah dipahami oleh semua masyarakat, sehingga mereka langsung bisa tahu lari ke mana ketika kondisi seperti ini terjadi,” ujar Kapolres Magelang AKBP Kif Aminanto malam tadi.

Semua warga memakai masker dan sebagian besar memakai penutup kepala seperti topi untuk melindungi diri dari debu vulkanik Merapi. Sementara jalan sendiri dipenuhi debu yang di beberapa titik bercampur genangan bekas air hujan, sehingga menjadi licin.

Tsunami Mentawai

Dari Sumbar dilaporkan, keputusan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geosifika (BMKG) mencabut peringatan tentang potensi tsunami dua jam setelah gempa mengguncang Senin malam 25 Oktober, ternyata keliru. Pasalnya, gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) yang mengguncang kawasan pantai Sumbar benar-benar memicu tsunami.

Gelombang laut setinggi enam meter menyapu wilayah Pagai Utara dan Pagai Selatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sedikitnya 40 warga Pagai Utara dan Selatan ditemukan tewas. Bahkan, laporan terbaru malam tadi menyebutkan, korban tewas akibat tsunami di Mentawai 122 orang. Selain itu, ratusan orang dilaporkan hilang.

Seperti dilaporkan Padang Ekspres (Group FAJAR), dua pulau (Pagai Utara dan Selatan) yang paling dekat dengan pusat gempa, semula dihuni ribuan warga. Saat gempa dan gelombang besar menyapu wilayah itu, sebagian warga mengungsi dan menyelamatkan diri ke daerah perbukitan.

Di Pagai Selatan, gelombang menyapu hingga 600 meter ke wilayah perkampungan penduduk. Seorang anak dilaporkan hanyut. Di Pagai Utara, gelombang air laut merendam seluruh rumah warga.
Sedikitnya tiga desa yang dihuni ratusan warga dilaporkan porak-poranda. Yakni, Desa Malakopa, Desa Mutai Baro-Baro, dan Desa Makaroni.

Di Desa Malakopa, tercatat seratus rumah warga hancur. Begitu juga, Desa Makaroni rata dengan tanah. Sementara di Desa Mutai Baro-Baro, seratus warga belum ditemukan.

Selain itu, di Silabo dan Muaro Takohapeha, 150 rumah warga hancur. Di Makaroni, 23 turis asing dinyatakan selamat dan sembilan lainnya hilang. Sebanyak 27 warga juga selamat di wilayah itu.
“Sementara warga bersama anggota Polri dan TNI menemukan 40 jenazah di beberapa lokasi.

Umumnya korban tewas itu ditemukan tersangkut. Tiga gereja dan dua masjid hancur,” tutur Bupati Kepulauan Mentawai Edison Saleleau Baja, Selasa 26 Oktober.

Edison mengungkapkan, umumnya korban hilang adalah warga yang tinggal di pinggir pantai. Untuk mengecek dan menemukan warga yang tewas, telah didirikan posko bencana di Pulau Sikakap.
Pemkab Mentawai telah mengirimkan makanan dan obat-obatan dari Padang. Pemkab juga telah mendistribusikan pakaian dan selimut.

“Kami telah menganggarkan Rp1 miliar. Dana itu akan digunakan membeli makanan dan obat-obatan untuk warga,” terang Edison.

Sebelumnya, BMKG menyatakan bahwa gempa mengguncang Sumbar pukul 21.45 Senin lalu. Pusat gempa berkekuatan 7,2 SR itu berada di sekitar perairan barat daya Pagai Selatan atau berjarak sekitar 78 km dari pantai Padang dan berada pada kedalaman 10 km. Setelah itu, terjadi dua kali gempa susulan berkekuatan 5,5 SR dan 5,0 SR dengan titik pusat hampir sama.

Menyusul gempa tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan soal potensi terjadinya tsunami. Tetapi, berselang dua jam setelah gempa atau sekitar pukul 22.45, BMKG mencabut peringatan tersebut. (jpnn)